Senin, 27 Desember 2010

Hafalan Shalat Delisa




















Novel tentang bacaan shalat anak 6 tahun dengan latar belakang bencana tsunami ini sangat mengharukan. Nilai keikhlasan dengan halus dijalin pengarangnya ke dalam plot cerita dunia kanak-kanak ini. Saya membacanya dengan rasa sentimental, karena selepas tsunami saya pernah bolak-balik ke Lhok Nga itu. (Taufiq Ismail-Sastrawan)

Gadis kecil itu bermata hijau, berambut pirang, cerdas, lincah dan bernama Alisa Delisa, bocah Lhok Nga berusia 6 tahun yang tinggal bersama Ummi serta ketiga
kakaknya, Cut Fatimah (15) dan si kembar Cut Aisyah – Cut Zahra (12). Ayah mereka bekerja di Kapal Tanker dan pulang setiap 3 bulan sekali, tidak lupa dengan tumpukan oleh2. Dan untuk kepulangannya kali ini, Abi berjanji membawakan Delisa sepeda warna biru. Jika Delisa berhasil menghafal bacaan shalatnya. Sebagai tambahan hadiah dari Ummi, yang sudah menyiapkan kalung berinisial D.

Delisa, gadis kecil berusia 6 tahun yang -karena keadaan- terpaksa dewasa lebih cepat, cobaan-cobaan hidup yang datang serasa runtuh sekaligus menimpanya (menimpa saudara-saudara kita di ujung pulau Sumatra sana). Kehilangan ummi,ke-3 kakanya,teman-temannya, gurunya, rumahnya, lebih dari separuh hidupnya terhempas bersama tsunami. Tapi kepolosan, kesederhanaan, keceriaan itu tetap disana, satu-satunya yang tersisa dari tsunami untuknya selain Abi.

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, tetap dengan naluri bermainnya, tetap dengan kegembiraan membayangkan kalung hadiah hafalan shalatnya dari ummi dan sepeda dari Abi. Meskipun kakinya harus di amputasi karena telah membusuk setelah 7 hari bertahan akibat hempasan tsunami, dia tetap bermain bola bersama teman-temannya memakai kruk untuk menahan kakinya.

Hafalan shalat Delisa hilang begitu saja, padahal ketika gempa dia sedang khusuk menghadap Bu Guru Nur menyetor hafalan sholatnya, demi kalung hadiah Ummi, demi sepeda hadiah Abi, demi sebatang coklat dari Ustad Rahman. Hafalan itu juga yang membuat Delisa sedih, karena setelah 3 bulan tak juga diingatnya. Susaaah sekali, semua rasanya pergi menguap bersama tsunami, walaupun setiap hari dibacanya buku bacaan sholat itu. Sampai suatu ketika ditemukannya ilmu itu, ikhlas.

Hati yang ikhlas, hati yang tulus, hati yang berharap hadiah hanya dari Allah, sebaik-baik pemberi hadiah. Delisa hanya ingin shalat! tanpa berharap Bu Guru Nur memberinya surat kelulusan, tanpa Ustad Rahman memberinya coklat atau Ummi memberinya kalung atau Abi membelikan sepeda. Delisa hanya ingin shalat! dan kini bacaan shalat itu seperti berbicara kepada Delisa, ia bisa bisa berdoa lebih baik, mendoakan Kan Fatimah, mendoakan kak Zahra, mendoakan Kak Aisyah, mendoakan Ummi. Ah, bocah kecil itu...


Beberapa bulan lalu ketika menghadapi masalah berat yang seringkali memporak-porandakan kondisi fisik dan batin, sahabat saya meminjamkan novel “Hafalan Shalat Delisa” ini. Saya langsung membaca dan hanyut dalam nuansa religi didalamnya yg sarat akan makna, pesan moral, dan sangat menyentuh jiwa hingga ke dalam sisi hati yang terdalam. Berulang kali membacanya, selalu saja air mata ini dibuat tumpah ruah saking terharunya. Hhmm, SUBHANALLAH… sebuah kisah yg membuat saya sangat malu, dimana Delisa yg berumur 6 tahun itu saja bisa bersikap begitu dewasa ketika menghadapi ujian besar seperti itu. Lha saya, yg mendapat ujian tidak seujung kuku hampir2 saja tidak sabar dan ikhlas menghadapi semuanya.

1 komentar: